Berikut ini hanya suatu ungkapan dari sisi keegoisan gue yang (PIJU TUHAN) bisa gue atasi...
Hati gue seperti ingin bergejolak keluar, dalam seketika gak bisa merasakan apa-apa selain perih dan sesak... Syaraf-syaraf di kepala gue seolah-olah sedang berlomba-lomba memutar seluruh memori-memori bersama dengan mereka yang pergi... Sialnya, memori-memori tersebut memiliki koneksi langsung dengan hati gue, jadi gak lama setelah mereka bermain di kepala gue, segeralah hati gue memberi reaksi yang selalu ingin gue abaikan..
Dia mulai memanggil, dan akhirnya merintih sanking sakitnya... Dan dalam seketika, sekujur tubuh gue beserta dengan organ-organnya ikut melemah dan memihak pada hati dan pikiran gue... Mereka bekerja sama, entah apa tujuannya, tapi cara penyampainnya yang sungguh tidak enak...air mata mewakilkan kelemahan dan kesakitan mereka...
Guepun memutuskan untuk mengajak hati dan pikiran gue berkompromi dan berdiskusi sejenak... Yah, pelan-pelan tapi pasti, gue mulai mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di balik "kekuatan" gue selama ini... Mereka butuh gue untuk sejenak saja, hanya sejenak... mendengar apa yang mereka mau sampaikan.... Sebelum memulai pembicaraan, sang hati dan pikiran tersebut mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.. Ternyata memang bukan yang sedang gue tugaskan menjadi penjaga hati gue belakangan hari ini... Kalo yang satu ini namanya, keegoisan...
"Maaf sebelumnya..." Dia menunduk penuh rasa bersalah... "Tapi gue cuma pengen menyampaikan rahasia yang selama ini gue simpen..."
"Kenapa semuanya harus begini?... Gue belom siap... sama sekali... Jangankan bersiap-siap, kepikiran aja gak!... Kenapa gue harus selalu dituntut untuk bisa mengerti keadaan??... Gue sudah melakukan hal hal itu, memang tidak semuanya gue lakukan dengan sempurna, bahkan sampai sekarang gue sendiri masih belum melakukan satupun yg sempurna... Tapi apa iya gue harus terus dihadapkan pada suatu hal yang memaksa gue mengeluarkan seluruh cadangan amunisi di berangkas "KETEGARAN"??!!..."
"Jujur, gue marah... gue kecewa dengan keadaan yang seperti ini... Gue benci berada dalam situasi seperti ini... setiap hari ada aja ujian yang tingkat kesukarannya terus meningkat!...Tapi gue tidak sanggup hati menyampaikan hal-hal tersebut ke Tuhan... Karna yang gue tau semua yang Dia lakukan tidak pernah salah..."
"Sakit yang dirasakan oleh gue si KEEGOISAN, maupun si KETULUSAN sudah sangat banyak... Dan bahkan bisa dibilang cukup bertubi-tubi... Kenapa kami hanya diijinkan merasa nyaman dan damai hanya dalam waku sebentar sih?... Kasih sayang yang diberikan orang itu sudah cukup membuat kami tenang dan bahagiah... Walaupun masih ada yang dia tuangkan ke org lain, tapi buat kami bahkan buat elo sendiri uda lebih dari cukup kan??...."
Gue si dungu yang ditunjuk... Dan, yaa... Gue mengakuinya... Itu bahkan lebih dari cukup...Tidak perduli dengan status apapun itu, selama alasannya karena tidak ada yang lebih abadi dari "Saudara Angkat", gue terima... Dan sekali lagi, itu saja sudah cukup..
"Hey, gue sedikit lebih beruntung dari pada lo! Karna setidaknya gue gak perlu menutupi luka dan kehancuran gue yang penuh air mata ini... Tapi elo??... Setiap saat lo dituntut untuk membaur di antara orang-orang ramai, lo terus menggunakan topeng yang sama dengan bentuk senyum lebar di bagian bibirnya!... Berapa banyak topeng yang udah lo jemur setelah lo membasahinya sepanjang malam sebelum bener-bener lo ketiduran??..."
"Elo, yang sekarang uda bahagiah di atas sana... Terima kasih atas semua jasa-jasa, pelajaran-pelajaran dan semuanya... Tapi beginikah cara lo pergi??... Tanpa pamit???... LO bilang gak akan pergi??... Gak akan tinggalin gue ataupun sisca si lemah dan bodoh itu??... Lo bilang kita akan berjalan menuju kesuksesan bersama??... Bagaimana dengan Thailand?... Bali??... EO kita??... pekerjaan kitaa??... Ulang Tahun ke 20??.. Malam tahun baru berikutnya??... Janji lo ikut gue ke gereja gue??... Ke panti asuhan??... Pantai??... semuanya???... semuaa... Bagaimana dengan semua itu?..."
"Apa yang harus gue lakukan sekarang??... menerima kenyataan kalo gak ada lagi "Superman" yang kapanpun gue panggil akan selalu bisa menyelamatkan gue... menerima kenyataan kalo ga ada lagi lelucon-lelucon bodoh lo yang selalu berusaha lo sisipkan di tengah-tengah pembicaraan serius kita... menerima kenyataan kalo lo bener-bener udah ga ada lagi?... pergi jauhhh dan gak ada kemungkinan sedikitpun untuk pulang... hanya menunggu waktu kapan bisa gue menyusul lo... beberapa kali gue kirim surat lewat doa, tapi gue tau gak akan bisa dibales... Karena lo hanya bisa menerima tapi tidak bisa menulis ataupun membalas dengan telepon..."
"Lo tinggalkan semua yang lo bangun, keluarga lo... dia yg selalu lo cintaa... kita semua di sini... bahkan hingga pada detik in gue masih gak percaya lo bener-bener udah ga ada!..."
"Tapi... Tuhan nggak mau gue kecewa terlalu dalam, Dia kasih beberapa jawaban yang akhirnya buat gue mengerti kenapa lo pergi... dan yaa, gue tau itu jg jawaban dari lo.. IMAN, adalah jembatan dari yang terbatas dan tidak terbatas... Ketika gue memikirkan segala sesuatu yang gak bisa gue nalar dengan akal sehat gue, gue pun diarahkan untuk berdoa ke Tuhan.. Dan yaa, Tuhan Maha Tau apa yang gue butuhkan bukan inginkan... Dia melakukan semua ini karena suatu tujuan tertentu, dan mengapa begitu?.. Karena DIA TIDAK TERBATAS!...."
"Sekarang gue lega... Karna setidaknya gue, KEEGOISAN, sudah menyampaikan apa yang gue tahan selama ini... Gue gak memohon apa-apa karna gue hanya ingin menyampaikannya... Pada akhirnya, gue mengakui kekalahan gue karena KETEGARAN dan IMAN yang dimiliki si 'empunya gue' jauh lebih kuat... So, gue atas nama seluruh keegoisan, merelakan lo pergi dengan proses yang gue percayai akan terus meningkat ke arah yang lebih baik, abaikan saja tetesan air mata yang sesekali menetes, karena itu bagian dari prosesnya.. Bye, Martin Wibisono... Lo adalah orang yang telah meninggalkan kenangan terindah pada gue, dan semua yang ada pada Sisca..."
Suatu hari nanti, aku dan semua yang sangat merindukan koko saat ini, pasti akan segera ke sana... Koko diminta untuk lebih dulu karena koko harus mempersiapkan tempat yang bagus untuk kita semua...
Di manapun koko saat ini, ketahuilah.. Aku dan semua orang sayang sama koko...
TANPA BATAS....
dan untuk selamanya....
Selalu merindukanmu, Ko Martin... :'):')

No comments:
Post a Comment